Review Hari Ketiga Pemutaran Film dan Diskusi IPCW 2019
Review
Hari Ketiga Pemutaran Film dan Diskusi IPCW 2019 :
SESI I
SESI I

Dalam rangka Hari
Internasional Masyarakat Adat Sedunia 2019, Aliansi Masyarakat Adat Nusantara
(AMAN) menyelenggarakan Sajian Kopi Nusantara pada tanggal 9-11 Agustus 2019
bertempat di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
Dalam acara ini juga dimeriahkan dengan pekan film masyarakat adat oleh The
Indigenous Peoples Cinema Week (IPCW) 2019 dengan menyajikan berbagai film karya
sineas dalam dan luar negeri. Berbagai panggung budaya, pameran foto dan produk
dari masyarakat adat, bengkel seni, kuliner nusantara, dan permainan
tradisional ikut memeriahkan acara tersebut. Dengan tema “Meneguhkan Tekad, Memperkuat Akar, dan Mengedepankan Solusi”.
Film-film tersebut bercerita tentang kehidupan masyarakat adat.
Aku datang di hari
terakhir IPCW 2019, Film yang tayang saat itu antara lain Hidup dari Tanah,
Penjaga Mandat Leluhur, Egek, dan Mukjizat Burung Surga. Pembicara dalam acara
tersebut antara lain Prof. Charlie D. Heatubun selaku Kepala Balitbangda
Provinsi Papua Barat, Abdon Nababan selaku Pejuang Masyarakat Adat dan Wakil
Ketua Dewan Nasional AMAN, Eliza Kissya selaku Pemangku Adat negeri Haruku, dan
Isai Ones Paa selaku Barisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN) Sorong. Dan sebagai
moderator adalah Een Irawan Putra selaku Rekam Nusantara Foundation.
Sebelum sesi diskusi
dengan para pembicara, kami (penonton) yang hadir dalam ruangan teater kecil
menonton secara berurutan ke-empat film tersebut. Setelah selesai menonton
film, moderator mulai memandu jalannya diskusi.
Pemaparan pertama
disampaikan oleh Bapak Prof. Charlie D. Heatubun. Beliau memaparkan bahwa Papua
Barat sekarang merupakan kawasan konservasi. Masyarakat Papua Barat ramah
dengan alam. Penduduk asli masih hidup di garis kemiskinan, tetapi masyarakat
Papua Barat mempunyai Sumber Daya Alam yang melimpah baik di hutan dan di laut,
sehingga dengan usaha konservasi mampu meningkatkan ekonomi masyarakat Papua
Barat.
Pemaparan kedua
disampaikan oleh Bapak Eliza Kissya
(yang lebih akrab disapa Om Eli). Beliau adalah pemangku adat dari Maluku.
Beliau pernah mendapatkan penghargaan Kalpataru pada 1985 dengan bentuk
keseriusannya menjaga lingkungan hidup di Haruku. Beliau mendedikasikan diri
sebagai Kewang (penjaga hutan dan laut). Beliau menyampaikan “Lewat Budaya
Lingkungan Terjaga”. Beliau memiliki pengaruh kuat terhadap masyarakat negeri
Haruku agar mereka senantiasa menjaga lingkungan. Om Eli ini selain peduli
dengan lingkungan, beliau juga pandai dalam menyanyi, memainkan musik
(ukulele), dan juga berpantun. Penyampaian materi yang singkat dengan pantun
yang begitu menawan disetiap akhir kalimat yang beliau sampaikan.
Pemaparan ketiga
disampaikan oleh Bapak Isai Ones Paa selaku pemuda yang peduli dengan
lingkungan sekitar. Beliau menyampaikan alam telah menyediakan apa yang manusia
butuhkan. Contohnya di Papua Barat banyak dijumpai Daun Gatal. Daun Gatal bagi
masyarakat Suku Moi mempunyai manfaat yang besar. Daun Gatal dapat dimanfaatkan
untuk obat sakit kepala, maupun digosokkan pada bagian tubuh yang sakit. Beliau
menyampaikan masyarakat disini tidak punya uang milyaran, tetapi orangtua
meninggalkan tanaman yang mempunyai nilai investasi tinggi. Itulah ATM bagi
masyarakat disana. Diakhir beliau berkata : “Kita harus berdaya dengan apa yang
kita punya”.
Dan pemaparan terakhir
disampaikan oleh Bapak Abdon Nababan. Beliau menyampaikan bahwa kita harus
mempertemukan lingkungan hidup dengan kebudayaan. Tugas utama kita bersama
adalah mewarisi mata air untuk anak cucu kita kelak. Supaya alam tetap terpelihara
dengan baik.

Komentar
Posting Komentar