Implementasi Kurikulum Merdeka dalam Meningkatkan Jati Diri Anak Usia Dini
Bunda ayah, sudah tahu apa itu Jati Diri?
Mengapa
jati diri anak harus dibangun?
Bagaimana
proses pembentukan jati diri anak?
Bagaimana
peran orang tua dalam pembentukan jati diri anak?
Simak penjelasan berikut ini.
Kurikulum Merdeka adalah kurikulum
dengan pembelajaran intrakurikuler yang beragam di mana konten akan lebih optimal agar peserta
didik memiliki cukup waktu untuk mendalami konsep dan menguatkan kompetensi.
Guru memiliki keleluasaan untuk memilih berbagai perangkat ajar sehingga
pembelajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan belajar dan minat peserta
didik. Kurikulum Merdeka memberikan keleluasaan kepada pendidik untuk
menciptakan pembelajaran berkualitas yang sesuai dengan kebutuhan dan
lingkungan belajar peserta didik.
Salah satu Capaian Pembelajaran (CP) PAUD pada akhir fase fondasi
(TK B) Kurikulum Merdeka yaitu Jati Diri PAUD. Acuan utama dari kemampuan yang
perlu dimiliki anak pada akhir usia 6 tahun. Direktorat Pendidikan Anak Usia
Dini, Kemdikbudristek menyusun bahan kebijakan pendukung pembelajaran satuan
PAUD melalui elemen Jati Diri.
Seorang anak perlu mengenal dirinya, baik sebagai pribadi maupun
sebagai bagian dari kelompok tertentu. Sejak usia dini, jati diri anak harus
sudah dibangun. Menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia (KBBI), Jati Diri berarti keadaan atau ciri khusus seseorang. Jati
diri adalah penilaian dan pemahaman seseorang mengenai dirinya, baik sebagai
pribadi maupun sebagai bagian dari kelompok tertentu. Contoh: secara pribadi
seorang anak mengetahui hal yang ia sukai, kelebihannya, dan ciri-ciri
fisiknya. Sebagai bagian dari sebuah kelompok, anak tersebut mengetahui suku,
agama, dan komunitas tempat ia berasal.
1. Jati Diri Secara Personal
Identitas
pribadi mengacu pada perasaan subjektif anak-anak tentang kekhasan mereka dari
orang lain, rasa keunikan anak, individualitasnya. Contoh: saya berambut
keriting, saya perempuan, saya suka boneka, dan lain-lain.
2. Jati Diri Secara Sosial
Identitas
sosial mengacu sisi lain dari anak. Di mana mereka merasa (atau ingin menjadi)
sama dengan orang lain, biasanya melalui identifikasi dengan keluarga dan/atau
budaya teman sebaya. Contoh: saya dari suku Jawa, saya anak bungsu di rumah,
dan lain-lain.
Mengapa jati diri anak harus dibangun?
Ketika jati diri seorang anak sudah terstimulasi, maka akan muncul
kepedulian terhadap lingkungan sekitarnya. Anak menyadari bahwa dia adalah
bagian dari lingkungan sosialnya. Sehingga, ketika orang lain membutuhkan
pertolongan maka dia akan membantu. Kepekaan anak terhadap lingkungan sekitar
terbangun karena ada proses penghargaan diri yang dibangun dari orang-orang
terdekat anak.
Jati diri anak harus dibangun karena akan membentuk anak yang
optimis dan pemberani, anak akan merasa dirinya berharga dan selalu ceria, bisa
menghargai orang lain, dan terbuka terhadap perbedaan dan keragaman. Selain
itu, anak akan mudah membangun rasa percaya diri dan mudah berpikir positif.
Bagaimana proses pembentukan jati diri anak?
Pembentukan
jati diri pada seorang anak terjadi melalui tahapan-tahapan berikut.
1. Anak mengetahui bahwa dirinya adalah seseorang yang unik dan tidak sama dengan orang lain. Anak memahami hal-hal yang ada dalam dirinya: ciri-ciri fisiknya, hal yang ia sukai, hal yang mampu ia lakukan dengan baik, dan sebagainya.
2. Anak mengamati dan menjelajah lingkungan
sekitarnya. Contoh: saya suka warna merah.
3. Anak menyadari bahwa dirinya merupakan
bagian dari suatu kelompok tertentu. Contoh: saya orang Jawa.
4. Anak berinteraksi dan mendapat dukungan
serta tanggapan positif dari lingkungan sekitar, seperti sekolah dan orang tua.
5. Anak merasa percaya diri dan berharga.
6. Jati diri yang positif terbentuk pada
anak.
Pembentukan jati diri yang positif akan membantu anak untuk
mengenal, memahami, dan menghargai kebutuhan dirinya serta orang lain. Oleh
sebab itu, anak yang memiliki jati diri positif memiliki peluang yang lebih
tinggi untuk dapat menjaga dan memelihara kesehatan atau kesejahteraan fisik
serta mentalnya sehingga ia dapat melakukan aktivitas sehari-hari dengan lebih
optimal.
1. Menyediakan lingkungan keluarga yang
penuh perhatian, pengertian, dan kasih sayang sehingga anak memiliki pandangan
yang positif mengenai hal-hal yang melekat pada dirinya.
2. Memberikan rasa aman dan nyaman, serta
memberikan kebebasan bereksplorasi kepada anak melalui waktu-waktu bebas
sehingga anak dapat mengekspresikan pikirannya atau mencoba aktivitas-aktivitas
yang diinginkannya, tanpa banyak larangan, selalu berkomunikasi dengan pihak
guru supaya pendidikan anak di sekolah dan di rumah tetap konsisten, memberikan
persepsi positif mengenai kegiatan ataupun aktivitas anak dengan terlibat dalam
kegiatan-kegiatan yang biasa dilakukan di lingkungannya.
Dalam pembentukan jati diri anak yang sehat dan positif, diperlukan dukungan dari lingkungan sekitar anak. Tidak hanya peran orang tua, akan tetapi guru dan masyarakat juga turut membangun jati diri anak. Guru merupakan orang dewasa terdekat bagi anak setelah orang tua. Guru bersama anak menjalani kegiatan sehari-harinya dalam jangka waktu yang cukup lama sehingga berperan besar juga dalam pengembangan diri anak. Dukungan yang positif dari lingkungan sekitar membuat anak merasa dirinya berharga dan menumbuhkan rasa bangga terhadap identitas yang dimilikinya.
Kata
Kunci : Kurikulum Merdeka, Kemdikbudristek
#SosialisasiFasilitatorIbuPenggerak
Referensi :
Muhammad
Hasbi, dkk. 2022. Membangun Jati Diri Anak. Jakarta: Direktorat Pendidikan Anak
Usia Dini Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan
Pendidikan Menengah Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
Saskhya,
dkk. 2021. Buku Panduan Guru Capaian Pembelajaran Elemen Jati Diri untuk Satuan
PAUD. Jakarta Pusat: Pusat Kurikulum dan Perbukuan Badan Penelitian dan
Pengembangan dan Perbukuan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan
Teknologi.

Komentar
Posting Komentar